Epistemologi bahasa
https://sg.docworkspace.com/d/sIDD7rqxE3_-VhgY
EPISTEMOLOGI BAHASA (PGMI)
Riza Lindu Ahmady
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Padangsidimpuan
Rizalinduahmady01@gmail.com
Abstrak
Pikiran dan bahasa menjadikan manusia sebagai makhluk yang termulia di muka bumi ini. Bahasa senantiasa hadir dan dihadirkan, berada dalam diri manusia, dalam alam, dalam sejarah, dalam wahyu Tuhan. Bahasa adalah sinequanonsesuatu yang mesti ada bagi kebudayaan dan masyarakat dan memiliki kesesuaian dengan struktur realitas dan fakta yang disebut gambaran realitas. Sedangkan tugas filsafat yang utama adalah mencari jawab atau makna dari seluruh simbol yang menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga merupakan alat untuk membongkar seluruh rahasia simbol-simbol tersebut. Namun demikian bahasa dalam kenyataan sehari-hari memiliki sejumlah kelemahan dalam hubungannya dengan ungkapan dalam aktivitas berfilsafat. Kelemahan tersebut antara lain: vagueness (kesamaran), inexplicitness (tidak eksplisit), ambiquity(ketaksaan), contex-dependence (tergantung pada konteks), misleadngness (menyesatkan). Masalah formulasi bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan pengetahuan manusia yaitu pengetahuan apriori dan apostreriori, serta problema kebenaran pengetahuan manusia. Terdapat tiga teori kebenaran dalam epistemologi yaitu: teori kebenaran koherensi, teori kebenaran korespondensi, dan teori kebenaran pragmatik.
Kata Kunci: peranan bahasa, kebenaran epistemologi.
Abstract
Mind and language make humans the noblest creatures on this earth. Language is always present and presented, in humans, in nature, in history, in God's revelation. Language is a sine qua nonsomething that must exist for culture and society and has conformity with the structure of reality and facts which is called a picture of reality. While the main task of philosophy is to find the answer or meaning of all the symbols that appear in this universe. Language is also a tool to reveal all the secrets of these symbols. However, language in everyday reality has a number of weaknesses in relation to expressions in philosophical activities. These weaknesses include: vagueness (disguise), inexplicitness (not explicit), ambiquity (imperceptibility), contex-dependence (depending on the context), misleadngness (misleading). The problem of language formulation used in expressing human knowledge is a priori and apostreriori knowledge, as well as the problem of the truth of human knowledge. There are three theories of truth in epistemology, namely: the coherence theory of truth, the correspondence theory of truth, and the pragmatic theory of truth.
Keywords: the role of language, epistemological truth.
PENDAHULUAN
Manusia modern menghadapi berbagai masalah berupa krisis global yang mengepung di seluruh penjuru, dengan akibat-akibat yang tak terbayangkan: terorisme, destabilitas demokrasi, krisis moneter, pencemaran lingkungan hidup, kekerasan horizontal, perang dan sekian krisis lainnya yang benar- benar mengurus energi. Alvin Tofler menggambarkan kekacauan manusia modern ini dengan mengatakan bahwa ahli- ahli psikoterapi, dan guru menjalankan usaha kantoran, orang- orang mengembara tanpa tujuan di tengah berkecamuknya terapi- terapi yang saling bersaing. Mereka terjerumus ke dalam pengkultusan dan pemujaan atau kalau tidak, dalam privatisme patologis, yakni bahwa realitas adalah absurd, gila, atau hampa tanpa makna (Toffler, 2002: 8).
Karakteristik peradaban modern, dengan Barat sebagai kiblatnya, ini menjalar keseluruh penjuru dunia lewat sistem pendidikan, tak terkecuali Indonesia. Seyyed Hussein Nasr mengatakan, semenjak abad ke-19, ketika gagasan Barat menjadi merata di kalangan sebagai kelas pengusaha di dunia Islam, gagasan- gagasan tentang “kemajuan” dan “Pembangunan” menjadi diterima secara luas dan untuk jangka waktu tertentu dianggap sebagai konsekuensi normal dari alur waktu sejarah. Pendidikan adalah kunci utama dalam pembangunan peradaban ke depan. Berdasarkan perkembangan dan akibat dari peradaban saat sekarang ini merupakan hasil dari peradaban Barat dengan sekarang yang dikenal dengan madrasah ibtidaiyah.
PEMBAHASAN
EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN MENURUT BERAGAM FILSAFAT DUNIA: IDEALISME, REALISME, PRAGMATISME, EKSISTENSIALISME
Pengertian Epistemologi.
Epistemologi dari bahasa yunaniepisteme (pengetahuan) dan Logos (ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang Filsafat,1 misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungan dengan kebenaran dan keyakinan. Epistemologi atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indra dengan berbagai metode, diantaranya : metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. Menurut para Ahli.
Pengertian Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Secara linguistik kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasaInggris dipergunakan istilah theoryofknowledge. Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan.
Objek dan tujuan Epistemologi.
Kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara cermat, sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran sedangkan tujuan hamper sama dengan harapan. Meskipun berbeda, tetapi antara objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan, sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. Sebagai sub sistem filsafat, epistemology atau teori pengetahuan yang untuk pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemology ini menurut Jujun S. Suria suamantri berupa“ segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperolehn pengetahuan inilah yang mejadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap perantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.. JacquesMartain mengatakan, “ tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu.”hal ini menunjukkan, bahwa tujuan epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendati pun keadaan ini tak bisa dihindari akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah hal lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetuhuan.Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai kita puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan.
METODE PENELITIAN
1. Jenis penelitian dan sifat penelitian
a. Jenis Penelitian
Dilihat dari jenis penelitian, maka penelitian ini termasuk kedalam penelitian libraryresearch atau penelitian kepustakaan yang khusus mengkaji suatu masalah untuk memperoleh data dalam penulisan penelitian ini. Yaitu penelitian yang diadakan diperpustakaan. Menurut M. Iqbal Hasan mengatakan bahwa, “penelitian kepustakaan (libraryresearch), yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu
b. Sifat Penelitian
Dilihat dari sifatnya, penelitian ini termasuk “Deskriptif Analitis” yaitu” suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secermat mungkin mengenai suatu yang menjadi objek, gejala atau kelompok tertentu untuk kemudian di analisis”Sedangkan menurut kartinikartono penelitian deskriptif adalah penelitian yang hanya melukiskan, memaparkan, dan melaporkan suatu keadaan, objek atau peristiwa tanpa menarik kesimpulan ini. Setelah melalui proses pengumpulan data tersebut di proses dengan pengolahan data dengan jalan mengelompokanya sesuai dengan bidang pokok-pokok bahasan masing-masing. Setelah bahan dikelompokan selanjutnya disusun, sehingga pembahasan yang akan dikaji tersusun secara sistematis untuk selanjutnya digunakan dalam proses analisis data. Metode analisis isi (ContentAnalysis) adalah metode yang digunakan untuk menganalisis semua bentuk isi yang disampaikan, baik itu berbentuk buku, surat kabar, pidato, peraturan, undang-undang dan sebagainya. Analisis isi yaitu studi tentang arti verbal yang digunakan untuk memperoleh keterangan dari isi yang disampaikan.Dalam menganalisis data, penulisan mengkaji obyek penelitian yang akan diteliti. Karena penelitian ini yang dijadikan obyek penelitian adalah obyek teori atau kajian teori, sehingga untuk menganalisis data tersebut maka penulis menggunakan metode deskriptif analisis yang penerapannya adalah untuk menganalisis obyek penelitian yang kajianya bersifat teoritis. Cara berfikir deduktif adalah menarik kesimpulan di mulai dari pernyataan umum menuju pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio (berfikirrasional). Sebagai landasan dari metode yang digunakan, maka penulis menyajikan metode tersebut dengan tekhnik analisis komperatif yang berguna sebagai pembandingan dari pendapat tokoh yang menjadi penelitian dengan pendapat tokoh lainya pada bagian-bagian tertentu saja dan tidak pada semua pokok bahasan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Terdapat tiga model atau cara untuk menganalisis data kualitatif. Miles dan Huberman (1987) menganjurkan model analisis interaktif (interactive model) yang mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu:
pengumpulan data,
penyederhanaan data,
pemaparan data, dan
penarikan dan pengajuan simpulan.
Spradley (1979) menganjurkan empat teknik analisis data kualitatif, yaitu:
(1) analisis ranah (domain analysis),
(2) analisis taksonomik (taxonomicanalysis),
(3) analisis komponensial (componentialanalysis), dan
(4) analisis tematik (thematic analysis)
Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat “permulaan” tentang berbagai ranah atau kategori konseptual secara umum pula. Pada analisis taksonomik, pusat perhatian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam memaparkan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Analisis taksonomik tidak saja berdasarkan data lapangan, tetapi juga berdasarkan hasil kajian pusataka. Beberapa ranah yang sangat penting dipilih dan dijadikan pusat perhatian untuk diselidiki secara mendalam.Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar-unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi
Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan mendahulukan kaidah-kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya. Cara atau model ketiga disarankan oleh Strauss dan Corbin (1990) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) open coding, (2) Pada tahap ini peneliti melakukan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatupaduan (interpretingandintegrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya. Pada tahap ini peneliti menulis hasil penelitian dalam bentuk laporan penelitian, bisa dalam bentuk skripsi, tesis, desertasi atau laporan penelitian. Temuan penelitian disebarluaskan ke khalayak akademik untuk memperoleh masukan dan memberikan sumbangan bagi kemaslahatan umum. Dari temuan penelitian, kegiatan penelitian lebih lanjut dapat dilakukan.
SIMPULAN
Epistemologi adalah teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Epistemologi pendidikan dipahami secara beragam menurut pandangan Idealisme, Realisme, Pragmatisme dan Eksistensialisme.
Sedangkan dampak negatif dari dominasi peradaban Barat dalam pendidikan Islam yaitu: kegagalan merumuskan tauhid dan bertauhid, terjadinya dikotomi proses pencapaian tujuan pendidikan, lembaga pendidikan melahirkan manusia yang berkepribadian ganda, menyebabkan terjadinya dikotomi dan dualisme pendidikan sebagai pengaruh faham sekuler yang berkembang di Barat, dari segi ekonomi justru menguras masyarakat Islam untuk mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk membeli produk-produk teknologi Barat, sebagai alat yang modern untuk dipakai dalam dunia pendidikan, melemahkan “kreatifitas” untuk menciptakan media dalam pendidikan Islam karena, menganggap bahwa teknologi Barat telah menyiapkan berbagai fasilitas pendidikan yang dibutuhkan mulai dari yang sederhana sampai yang paling canggih.Dengan adanya pengaruh negatif peradaban Barat tersebut berimplikasi negatif terhadap madrasah di Indonesia yang menyebabkan baik output maupun pendidikan kurang berkualitas yakni diantaranya: masalah ketidakseimbangan daya tampung, masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu, masalah kualitas dan kuantitas guru, masalah pembiayaan pendidikan, masalah relevansi pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, PT. Refika Aditama, Bandung, Cetakan Pertama 2011, cetakan kedua 2013.
MujammilQomar, Epistemologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Erlangga 2005).
Mustansyir, Rizal, Ilmu Filsafat, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002).
Salam H. Burhanuddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : PT Kineka Cipta, 1997).
Santosa, Nyong Eka Teguh Iman (2015) Fenomena Pemikiran Islam. UruAnnaBooks, Sidoarjo. ISBN 978-602-70561-3-8. URI: http://eprints.umsida.ac.id/id/eprint/196.
Santosa, Nyong Eka Teguh Iman. Epistemologi Partisan Pendidikan Liberal. Adabiyah: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 1, No. 1, September 2015. DOI:
http://dx.doi.org/10.21070/ja.v1i1.160. Retrievedfrom
http://ojs.umsida.ac.id/index.php/ajpi/article/view/160.
Suparno Paul, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius 2001).
Surajiyo, Ilmu Filsafat, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008).
Suriasumantri, Jujun, S. , Ilmu Filsafat (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1990).
H. Burhanudin Salam. Filsafat Ilmu Pengetahuan, ( Jakarta : PT Kineka Cipta, 1997),
Komentar
Posting Komentar